Jumat, 05 April 2013

PENERAPAN STRATEGI KONFLIK KOGNITIF UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA



1.        PENDAHULUAN
Pembelajaran mata pelajaran matematika di Indonesia sesuai ketetapan pemerintah melalui BSNP, bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut (1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah; (2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; (3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; (4) Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; (5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan diharapkan mampu mengembangkan kemampuan siswa serta membentuk kepribadian siswa sesuai dengan tujuan yang ditetapkan melalui pembelajaran.
Pada saat ini pelaksanaan pembelajaran disekolah masih belum terlaksana seperti yang diharapkan.Pembelajaran yang diterapkan cenderung text book oriented dan kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru dalam mengajar masih kurang memperhatikan kemampuan berpikir siswadan  menggunakan metode yang kurang bervariasi, sehingga pembelajaran yang diberikan tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaitkan konsepsi yang dimiliki dengan konsep yang diajarkan (pembelajaran tidak bermakna). Hal ini mengakibatkan  motivasi dan minat  belajar siswa menjadi sulit ditumbuhkan dan pola belajar cenderung menghafal dan mekanistis. Sebagaian besar siswa masih menganggap matematika adalah pelajaran yang sulit untuk difahami sehingga pembelajaran matematika hendaknya lebih bervariasi metode maupun strateginya guna mengoptimalkan potensi siswa. Upaya-upaya guru dalam mengatur berbagai pembelajaran merupakan bagian penting dalam keberhasilan siswa mencapai tujuan yang direncanakan karena itu pemilihan metode strategi dari pendekatan dalam mendesain model pembelajaran guna tercapainya iklim pembelajaran aktif yang bermakna adalah tuntutan yang mesti dipenuhi para guru.
Ketidak tercapaiannya tujuan pembelajaran siswa dapat dilihat dari rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap konsep-konsep matematika.Hal ini dapat dilihat dari hasil ulangan harian materi aturan perkalian dan pengisian tempat yang tersedia yang dilakukan peneliti di kelas X-3 SMA Negeri 1.Hasil ulangan menunjukkan bahwa ketuntasn belajar kelas hanya mencapai 57% yang disebabkan karena lemahnya pemahaman siswa terhadap konsep kaidah pencacahan.Hasil evaluasi juga menyebutkan bahwa 38% siswa mengalami miskonsepsi lebih dari 50% dari indikator yang telah ditetatapkan.
Salah satu penyebab lemahnya pemahaman konsep ini adalah masalah konsepsi siswa. Konsepsi adalah pemahaman atau tafsiran siswa tentang konsep yang telah ada dalam pikiran siswa sebagai akibat dari proses belajar mengajar. Hal ini dikarenakan guru pada waktu mengajar belum menggunakan strategi pembelajaran yang tepat dan  dapat mendorong siswa untuk berfikir dengan melibatkan siswa secara aktif. Beberapa hasil penelitian (Soedjadi, 2001; Marpaung, 2002; Ratumanan,2003) mengatakan bahwa pembelajaran selama ini berpusat pada guru dan siswa dijadikan sebagai objek pembelajaran yang melakukan aktivitas dalam menyelesaikan latihan soal sesuai dengan contoh-contoh yang disajikan guru. Pembelajaran di kelas tidak pernah berubah, yaitu pembelajaran yang mekanik untuk mencapai pemahaman siswa. Siswa tidak mempunyai waktu yang cukup untuk menkonstruksi pengetahuan yang dipelajarinya dalam belajar matematika.
Teori konstruktivis Piaget menyatakan ketika seorang membangun ilmu pengetahuannya, maka untuk untuk memahami ilmu yang lebih tinggi diperlukan asimilasi, yaitu proses penyerapan pengalaman baru berdasarkan pada skema yang sudah dimiliki.  Pandangan ini dapat memberikan indikasi bahwa sebelum belajar secara formal di kelas, siswa sudah mempunyai gagasan atau ide terhadap peristiwa-peristiwa ilmiah. Gagasan-gagasan siswa ini merupakan pengetahuan awal (prior knowledge) mereka. Gagasan-gagasan siswa ini pada umumnya masih diwarnai oleh pengalaman sehari-hari yang kemungkinan mengandung miskonsepsi. Fredette dan Clement (dalam Asnawati, 1999:27) menyatakan miskonsepsi merupakan penyimpangan terhadap hal yang benar, yang sifatnya sistematis, konsisten maupun insidental pada suatu keadaan tertentu. Dari pengertian di atas miskonsepsi dapat diartikan sebagai suatu konsepsi yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima oleh ilmuwan yang bersifat sistematis, konsisten maupun insidental.  Miskonsepsi diartikan sebagai konsepsi siswa yang tidak cocok dengan konsepsi para ilmuwan, hanya dapat diterima pada kasus-kasus tertentu dan tidak berlaku untuk kasus-kasus lainnya serta tidak dapat digeneralisasikan.
Ausubel (dalam Sadia, 1997)   mengemukakan bahwa pengajaran yang tidak memperhatikan konsepsi awal siswa akan menyebabkan salah konsep siswa akan menjadi lebih kompleks dan stabil. Pendekatan pembelajaran yang memperhatikan prakonsepsi siswa merupakan model pembelajaran yang mengacu pada pemikiran konstruktivisme. Teori lain dari konstruktivisme juga menyatakan bahwa pengetahuan dibangun di dalam pikiran pembelajar melalui proses akomodasi dan asimilasi dengan menggunakan struktur kognitif yang telah ada (Bodner, 1986). Dalam pembelajaran, jika guru tidak menyadari akan adanya gagasan-gagasan atau konsepsi-konsepsi siswa yang dibawa ke kelas, dan terus mengajar dengan memberikan pengalaman-pengalaman yang didasarkan atas latar belakang yang diasumsikan sendiri, maka tidak mengherankan bahwa pandangan-pandangan siswa tidak terpengaruhi oleh pengalaman-pengalaman di kelas, atau dapat juga miskonsepsi siswa akan semakin kompleks dan stabil. Hal ini akan berdampak negatif terhadap prestasi belajar (Ausubel, 1978).
Pada penelitian ini, peneliti mencoba sebuah strategi pembelajaran yang dapat memberi banyak kesempatan kepada untuk dapat memperbaiki miskonsepsinya sebelum dia mempelajari konsep  dengan tingkat lebih tinggi. Secara spesifik Van den Berg (1991) dalam penelitiannya menyatakan strategi konflik kognitif dalam pembelajaran matematika cukup efektif untuk mengatasi miskonsepsi pada siswa dalam rangka membentuk keseimbangan ilmu yang lebih tinggi.  Strategi konflik kognitif merupakan strategi pengubahan konseptual (conceptual change strategy) yang memungkinkan dapat merubah  stabilitas miskonsepsi-miskonsepsi siswa untuk menuju konsepsi ilmiah.
Dengan demikian dipandang perlu untuk meneliti apakah strategi pembelajaran konflik kognitif dapat mengubah miskonsepsi siswa menuju ke konsepsi ilmiah, sehingga pemahaman siswa tidak akan terhambat  pada tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1) Bagaimanakah aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan strategi konflik kognitif?; 2)Apakah penerapan stratetegi konflik kognitif dapat meningkatkan minat  siswa terhadap pembelajaran matematika?; 3)Apakah penerapan stratetegi konflik kognitif dapat meningkatkan minat  siswa terhadap pembelajaran matematika?

2.        METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan aktivitas, minat dan pemahaman matematika siswa melalui kegitan pembelajaran dengan penerapan strategi konflik kognitif.
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Manyar, yang memiliki 33 ruang kelas  belajar yang dilengkapi dengan fasilitas laboratorium, perpustakaan dan fasilitas lainnya. Fasilitas pembelajaran di kelas dilengkapi dengan Televisi, LCD beserta layarnya dengan luas ruangan sebesar 8 m x 9 m untuk 32 siswa.
Dalam penelitian ini gurubertindak sebagai perencana, pengamat dan pelaksana penelitian. Kehadiran peneliti di kelas tetap sebagai guru dan pembelajaran dilaksanakan seperti biasa,  sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.
Pemilihan subyek penelitian berdasarkan hasil Ulangan Harian pada topik aturan perkalian, didapat bahwa miskonsepsi yang dialami siswa lebih dari 80%, maka  peneliti memilih siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Manyar pada tahun pelajaran 2012/2013 sebagai subjek penelitian. Kelas X-3 mempunyai siswa  32 siswa yang terdiri dari 16 siswa putri dan 16 siswa putra.
Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan pada semerter ganjil tahun pembelajaran 2012/2013, dari bulan September 2012 sampai dengan November 2012, yang meliputi kegiatan perencaan, pelaksanaan penelitian dan penyusunan laporan dengan jadwal pelaksanaan sebagaimana tertera ini:
a)      Perencanaan
Perencanaan penelitian ini meliputi kegiatan pembuatan RPP dan Instumen instrumen penelitian seperti LKS, Tes formatif, Lembar Observasi dan Angket minat siswa. Kegiatan ini dilaksanakan pada minggu ke-3 bulan September 2012 sampai minggu ke-1 bulan Oktober 2012
b)      Pelaksanaan
1)         Siklus I
            Tabel 3.1 Jadwal pertemuan pada siklus I
No
Kegiatan
Tanggal
Materi
1
Pertemuan I
9 Oktober
Permutasi k unsur dari n unsur yang berbeda
2
Pertemuan II
11 Oktober
Permutasi dengan beberapa unsur yang sama
3
Pertemuan III
14 Oktober
Permutasi siklis
4
Tes Formatif I
21 Oktober
Materi pada pertemuan 1, 2 dan 3


2)        Siklus II
 Tabel 3.2 Jadwal pertemuan pada siklus II
No
Kegiatan
Tanggal
Materi
1
Pertemuan I
23Oktober
Kombinasi
2
Pertemuan II
25  Oktober
Penerapan konsep kombinasi dalam menyelesaikan masalah
3
Tes Formatif I
30  Oktober
Kombinasi


3)        Siklus III
Tabel 3.3Jadwal pertemuan pada siklus III
No
Kegiatan
Tanggal
Materi
1
Pertemuan I
7 November
Ruang sampel suatu percobaan
2
Pertemuan II
9 November
Peluang suatu kejadian dan kompelemennya, frekuensi harapan
3
Pertemuan III
11 November
Peluang kejadian majemuk
3
Tes Formatif I
16   November


c)      Penyusunan laporan
Penyusunan laporan dilakukan mulai minggu ke-3 bulan November sampai minggu ke-1 bulan Desember 2012
Dalam penelitian ini guru bertindak sebagai perencana, pengamat dan pelaksana penelitian dengan dibantu oleh seorang observer untuk mengamati pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru.Data kemampuan guru dalam mengelolah kelas digunakan sebagai bahan refleksi untuk menentukan perencanaan pada kegiatan siklus berikutnya.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen utama, yaitu peneliti  sendiri, karena peneliti sebagai pengumpul data dan menginterpretasikan data yang diperoleh selama proses penelitian. Selain instrumen utama tersebut, dibuat instrumen pendukung yang lain berupa: 1) RPP; 2) Lembar Kegiatan Siswa, yang dipergunanakan untuk proses pengumpulan data hasil eksperimen; 3)Tes formatif, digunakan untuk mengkur pemahaman matematika siswa    dan 4)    Angket dan Lembar Observasi, yang digunakan untuk mengamati aktivitas dan minat siswa serta kemampuan guru dalam pengelolaan kelas.
Berikut ini merupakan prosedur  analisis data pada penelitian ini:
1.      Pemahaman Konsep Siswa
a.       Data tentang pemahaman konsep matematika siswa diperoleh dari hasil tes formatif yang dilakukan disetiap akhir siklus. Jawaban siswa akan dibandingkan dengan indikator pemahaman tiap topik bahasan. Pada analisis ini akan didapat data tentang tingkat pemahaman siswa dan miskonsepsi yang dialami siswa. Data siswa yang diduga mengalami miskonsepsi akan digunaka untuk menyusun pedoman wawancara.
b.      Berdasarkan hasil data siswa yang diduga mengalami miskonepsi, dilakuka wawancara untuk memastikan apakah siswa benar-benar mengalami miskonsepsi. Hal ini perlu dilakukan karena ada siswa tidak dapat menuliskan pemikirannya malalui tulisan tetapi mampu menyatakannya secara verbal. Siswa seperti ini tidak dikategorikan mengalami miskonsepsi. Wawancara ini tidak diberikan kepada siswa yang berdasarkan tes formatifnya dapat dipastikan mengalami miskonsepsi.
c.       Peneliti menganalisis data hasil wawancara untuk menentukan pemahaman siswa terhadap konsep matematika.

2.      Keaktifan dan minat siswa terhadap penerapan  strategi pembelajaran konflik kognitif.
a. Data aktivitas siswa
Data aktivitassiswa adalah data kegiatan siswa dalam proses pembelajaran. Data ini akan disajikan dalam bentuk persentase siswa  yang melaksanakan aktivitas yang telah ditetapkan dalam bentuk indikator-indikator. Deskripsi yang dimaksud pada penelitian ini adalah:
1)   Perhatian
Indikator  yang digunakan adalah: a)Menyimak penjelasan guru  atau teman dengan sungguh-sungguh; b)Menunjukkan antusiasme; c)Menunjukkan rasa senang
2)   Kerjasama
Indikator yang digunakan adalah: a) Memberikan bantuan pada orang lain; b) Menghargai pendapat orang lain; c) Menunjukkan kekompakan
3)   Ketekunan
Indikator  yang digunakan adalah: a)Membaca dan mengerjakan LKS; b) Membuat rangkuman; c)Tidak mengobrol
4)   Keaktifan
Indikator yang digunakan adalah: a)Menyatakan pendapat; b) Mengajukan pertanyaan; c) Berdiskusi antara sesama teman atau dengan guru
Siswa dikatakan berada pada kategori:
Baik     : Jika siswa melakukan 3 aktifitas yang diinginkan
Sedang : Jika siswa melakukan 2 aktifitas yang diinginkan
Kurang: Jika siswa melakukan hanya 1  aktivitas yang diinginkan
Rumus yang digunakan untuk menentukan persentase adalah:
b. Data minat siswa
Data minat siswa dikumpulkan dengan menggunakan angket ARCS yang menggunakan indicator perhatian (attention), Kesesuaian (relevance), Percaya diri (confidence) dan Kepuasan (Satisfaction). Rekap sekor yang dibeikan siswa terhadap pernyataan-pernyataan dalam angket minat siswa dibuat dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a)      Untuk pernyataan dengan kriteria positif; 1 = sangat tidak setuju, 2 tidak setuju, 3 = ragu-ragu, 4 = setuju dan 5 = sangat setuju
b)      Untuk pernyataan dengan kriteria negatif; 1 = sangat setuju, 2 = tidak setuju, 3= ragu-ragu, 4 = tidak setuju dan 5 = sangat tidak setuju
c)      Menghitung skor rata-rata gabungan dari kriteria positif dan negarif tiap kondisi, kemudian menentukan kategorinya dnegan ketentuan skor rata-rata sebagai berikut.
1,00 – 1,49 = tidak baik
1,50 - 2,49  = kurang baik
2,50 – 3,49 = cukup baik
3,50 – 4,49 = baik
4,50 – 5,00 = sangat baik

3.        HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
a.  Minat Siswa Terhadap Penerapan Strategi Konflik Kognitif
Pada setiap akhir penerapan strategi konflik kognitif siswa diberi kesempatan untuk mengisi angket minat dengan respon perhatian, relevansi, percaya diri dan kepuasan. Berdasarkan hasil pengisian angket minat  siswa terhadap pembelajaran dengan strategi konflik kognitif dapat dilihat pada tabel berikut:
No
Kondisi/Respon
Siklus I
Siklus II
Siklus III
1
Perhatian (attention)
3,02
3,32
3,55
2
Relevansi (relevance)
2,76
3,12
3,27
3
Percaya diri (confidence)
3,67
3,89
4,29
4
Kepuasan (satisfaction)
3,57
4,10
4,42


Berdasarkan data diatas terdapat kenaikan minat siswa pada keempat respon berada pada kategori baik.Hal ini menunjukkan siswa mempunyai respon yang positif terhadap pembelajaran matematika dengan penerapan stategi konflik kognitif dalam pembelajaran matematika.Hal ini sesuai dengan pendapat Slameto (2003:180) yang mengatakan bahwa bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan yang dianggap penting, dan bila siswa melihat bahwa hasil dari pengalaman belajar akan membawa kemajuan pada dirinya, ia akan lebih berminat untuk mempelajarinya.

b. Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Dengan Strategi Konflik Kognitif
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran matematika dengan strategi konflik kognitif yang paling dominan adalah diskusi siswa dalam membuka dan memunculkan gagasan, siswa terlibat dalam konflik kognitif untuk membentuk konsep baru dan menerapkannya. Aktivitas siswa pada setiap siklus dapat dilihat pada tabel berikut:

No
Aspek  yang diamati
Persentase
Siklus I
Siklus II
Siklus III
A
Perhatian
(menyimak penjelasan, menunjukkan antusiame, menunjukkan rasa senang)
48,3%
64,5%
96,7%
B
Kerjasama
(memberikan bantuan, menghargai pendapat, menunjukkan kekompakan)
51,6%
74,2%
90,3%
C
Ketekunan
(membaca dan mengerjakan LKS, membuat rangkuman, tidak mengobrol)
64,5%
90,3%
100%
D
Keaktifan
(menyatakan pendapat, mengajukan pertanyaan, berdiskusi antara sesama teman atau guru)
74,2%
96,7%
100%
Rata-rata
59,65%
81,43%
96,75%

Pada data di atas terdapat kenaikan yang signifikan terhadap aktivitas siswa dalam pembalajaran matematika, hal ini disebabkan siswa pada penerapan pembelajaran dengan strategi konflik kognitif memungkinkan siswa untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran baik dalam kegiatan individu maupun kelompok. Kegiatan pembelajaran ini diawali dengan orientasi, pemunculan gagasan (siswa diminta untuk menyatakan gagasan dan mendemonstrasikan melalui alat peraga yang disediakan), penyusunan ulang gagasan yang meliputi kegiatan pertukaran gagasan, pembukaan situasi konflik, pembentukan dan penilaian gagasan baru serta diakhiri dengan fase penguatan dan penerapan gagasan. Tahapan kegiatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyatakan pendapat, bekerja sama , menngekslporasi konsep dari sumber belajar dan mengoreksi konsep yang dimilikinya. 


c.     Pemahaman Konsep Matematika
  Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi konflik kognitif memiliki dampak positif dalam peningkatan pemahaman konsep matematika  dan menurunkan miskonsepsi siswa. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut:

No
Uraian
Siklus I
Siklus II
Siklus III
1.
Persentase pemahaman konsep
68,78%
73,38%
81,28%

Pada data diatas terdapat kenaikan yang signifikan terhadap tingkat pemahaman siswa terhadap konsep matematika hal ini sesuai dengan hasil penelitian Van Berg (1991) bahwa strategi konfflik kognitif efektif dalam mengatasi miskonsepsi dan meningkatkan pemahaman matematika.
Hal ini selaras juga dengan pendapat Limon (2001) yang menyatakan bahwa penerapan strategi konflik kognitif yang dilakukan dengan tahapan mengidentifikasi konsepsi alternatif, mengkonfrontasi dengan informasi yang bertentangan, menggunakan anomalous information  untuk mencapai perubahan konseptual membuat siswa sadar untuk mengganti konsep sebelumnya dengan konsep ilmiah. Pengubahan konsep ini terjadi karena pada fase konflik kognitif terjadi  ketidakseimbangan atara konsep yang diterima siswa dengan struksur kognitif yang dimiliki sebelumnya dan secara alamiah seseorang selalu berusaha untuk menghilangkan ketidakseimbangan dengan melakukan akomodasi sampai ketidakseimbangannya menjadi seimbang, sehingga terbentuk konsep ilmiah.
 Peningkatan minat siswa pada pembelajaran matematika juga mengakibatkan peningkatan pada  tingkat pemahaman matematika siswa. Minat belajar yang tinggi akan mendukung berlangsungnya proses belajar mengajar matematika. Minat mempunyai pengaruh yang besar dalam proses pembelajaran,  karena jika bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Siswa akan enggan  untuk belajar karena dia tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar (Slameto, 2003: 57). Sejalan dengan itu Ahmadi (1990: 79) mengemukakan bahwa tidak adanya minat siswa terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar, karena itu pelajaran pun tidak pernah terjadi proses dalam otak. Sehingga tujuan belajar tidak dapat terlaksana.


4.      SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan dan analisis data hasil kegiatan pembelajaranyang telah dilakukan selama tiga siklus, dapat disimpulkan sebagai berikut:1)Penerapan pembelajaran dengan strategi konflik kognitif dapat meningkatkan aktivitas  siswa terhadap pembelajaran matematika berturut-turut pada siklus I , II dan III sebesar 58,1%, 82,7% dan 92,9%; 2) Penerapan pembelajaran dengan strategi konflik kognitif dapat meningkatkan minat siswa terhadap pembelajaran matematika pada respon perhatian berturut-turut pada siklus I , II dan tiga sebesar 3, 02 (kurang), 3, 32 (baik) dan  3, 55 (baik), pada respon kesesuaian terjadi kenaikan sebesar 2, 76 (kurang) 3,12 (baik) dan 3,27 (baik) sedangkan pada respon percaya diri pada 3, 67 (baik), 3, 89 (baik) dan sebesar  4,29 (baik) dan pada respon kepuasaan terdapat kenaikan sebesar 3, 57 (baik), 4, 10 (baik) dan  4,42 (baik); 3) Penerapan pembelajaran dengan strategi konflik kognitif dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa sebesar 68,78%, 73,38% dan 81,28% pada siklus I, II dan III


DAFTAR RUJUKAN

Asnawati, Rini.1999. Pemahaman Siswa Terhadap Konsep Pecahan Desimal Sebelum dan Sesudah Kegiatan Remediasi dengan Strategi Konflik Kognitif.Tesis. Surabaya: Program Pasca Sarjana IKIP Surabaya.
Berg, Enwe V.D. 1991. Miskonsepsi, Fisika dan Remidiasi. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.
Bodner, George M. 1986. Constructism: A theory of Knowledge. Journal of Chemical Education Vol. 63 No 16.
Chien Liu, Tzu. 2010. Developing Simulation-Based Computer Assisted Learning to Correct Student Statistical Misconceptions Based on Codnitive Conflict Theory, Using “correlation” as an Example. Research Report.Educational Tehnology & Society.
Dahar, Ratna Willis. 1988. Teori-teori Belajar. Ditjen dikti Depdikbud. Jakarta: P2LPTK.
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) matematika SMA. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Jakarta.
Dreyfus et Al. 1990. Applying the cognitive Conflict Strategy for Conceptual Change.Some Implications, Difficulties and Problems.Journal for Research Science Teaching.
Lia, Yuliati 2007.Miskonsepsi dan Remidiasi Pembelajaran Matematika. Jakarta: Pengembangan Pengembelajaran Matematika SD Departeman Pendidikan dan Kebudayaan.
Mariawan, I. Made. 1997. Efektifitas Strategi konflik Kognitif dalam pembelajaran gaya dan tekanan. Singaraja: STKIP Singaraja.
Muhibbin, Syaban. 2005. Psikologi Pendidkan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosdakarya.
Mathematics Forum. 2009. Mathematics For Senior High School Year XI for Science Program. Jakarta: Yudhistira.
Padmawinata, Djupri. 1980. Rancangan Pengalaman Belajar untuk Pengembangan Konsep. Jakarta: P3G Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sadia, I wayan.1996. Efektifitas Strategi konflik kognitif dalam mengubah miskonsepsi siswa. Singaraja: STKIP Singaraja.
Sawada, Toshio. 1997. Developing Lesson Plan. Bahan Kuliah Pembelajaran Matematika 1B.
Slavin, Robert E. 1997.Educational Psychology, Theory and Practice. Fifth Edition: Allyn and Bacon.
Skemp, R.R. 1971. The Psychology of Learning Mathematics. New York. Penguin Books.
Suparno,  Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
Walle, John A Van De. 1990. Elementary School mathematics. Teaching Developmentally. New York: Longman.

1 komentar:

  1. Suka dengan isi artikel ini. Terima kasih banyakk sudah share tentang hal ini. Mohon ijin untuk share lebih luas.

    Salam
    Leonard
    leoriset.blogspot.com

    BalasHapus